Turunkan Harga Gas Industri, Pemerintah Perbaiki Regulasi

Togel Hari Ini Jakarta – Menteri Perindustrian (Memperin), Airlangga Hartarto, mengatakan, perlu adanya perbaikan regulasi dalam upaya penurunan harga gas industri di dalam negeri. “Terutama di sektor hilir dan juga asumsi daripada mekanisme teknis seperti depresiasi,” katanya usai mengikuti rapat terbatas mengenai kebijakan penetapan harga gas yang dipimpin Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (4/10) sebagaimana dalam siaran persnya, Rabu (5/10). Perbaikan regulasi tersebut, lanjut Airlangga, akan segera dilakukan oleh Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian, Kemenko Bidang Kemaritiman, Kemperin, dan Kemkeu yang akan mengkaji lebih rinci mulai dari multiplier effect hingga potensi penerimaan negara. Airlangga optimistis, perbaikan regulasi dapat dirampungkan sebelum akhir November 2016. “Dengan demikian, target harga gas industri yang kompetitif sebagai pendorong ekonomi ini bisa dicapai sesuai yang diinginkan Bapak Presiden, yakni di bawah US$ 6 per million metric british thermal unit (MMBTU),” ujarnya. Airlangga menyampaikan, pihaknya telah mengidentifikasi 10 sektor industri dan ditambah industri yang berlokasi di kawasan industri yang perlu menerima harga gas di bawah US$ 6 per MMBTU. “Jadi berlaku efektif yang ditargetkan 1 Januari 2017, harga diharapkan bisa didapat,” ungkapnya. Airlangga menambahkan, seperti yang disampaikan Presiden, orientasi penetapan harga gas industri yang baru harus memberikan dampak luas bagi pembangunan industri nasional dan menjadi substitusi impor. “Itu didorong untuk memperkuat daya saing industri kita,” jelasnya. Sebagai gambaran, harga gas di Indonesia masih cukup tinggi mencapai US$ 9,5 per MMBTU. Padahal, harga gas di negara-negara ASEAN seperti Vietnam hanya US$ 7, Malaysia US$ 4, dan Singapura US$ 4 per MMBTU. Hal ini berimplikasi sangat besar pada kemampuan daya saing industri nasional terutama industri keramik, industri tekstil, industri petrokimia, industri pupuk, dan industri baja yang banyak menggunakan gas. “Jadi kita akan optimalkan seluruh potensi gas yang ada, sehingga industri kita bisa terbangun kembali dan perwilayahan industri tidak hanya menunjang di Jawa Centris, tetapi juga Indonesia Centris,” tegas Airlangga. Siprianus Edi Hardum/EHD Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu