Misi Persib Membunuh Kutukan Juara Bertahan dan Kompetisi Penuh

Berformat kompetisi penuh satu wilayah, Liga Indonesia edisi ke-20 tersebut membentangkan tantangan besar khususnya bagi Persib Bandung.
Bukan saja untuk memutus kutukan juara bertahan liga yang selama ini tak pernah sanggup mempertahankan gelar. Namun, Persib ditantang untuk memecahkan rekor buruk sendiri yakni tak pernah juara dalam format kompetisi penuh satu wilayah.
Sejak liga Indonesia dimulai pada musim 1994-1995, Persib tak pernah sanggup menjuarai liga Indonesia setiap kali kompetisi digelar dalam format kompetisi penuh satu wilayah. Persib hanya mampu menjadi juara ketika kompetisi digelar dengan sistem setengah kompetisi dalam format dua wilayah yakni pada musim perdana Liga Indonesia (1994-1995) dan pada Liga Super Indonesia 2014.
Kapten tim Persib Atep mengakui, fakta jelek itu adalah tantangan yang harus dijawab oleh Persib saat ini. Apalagi, Persib sekarang sudah dibanjiri banyak pemain berkualitas baik dari kalangan lokal, naturalisasi, hingga legiun impor ternama.
“Ya, itu dia (rekor buruk tak pernah juara format kompetisi penuh), mudah-mudahan kami bisa bikin sejarah tahun ini. Apalagi, manajemen begitu berambisi dengan mendatangkan banyak pemain bintang,” kata Atep.

Setiap kali kompetisi dihelat dalam format satu wilayah, Persib memang selalu gagal mengangkat trofi. Pertama kali kompetisi digelar satu wilayah adalah pada Liga Indonesia edisi ke-9, tahun 2003. Saat itu, Persib terseok-seok dan berakhir di peringkat 16 dari 20 tim peserta sementara gelar juara diraih Persik Kediri. Selanjutnya pada Liga Indonesia 2004 yang memunculkan Persebaya Surabaya sebagai juara, Persib mentok di peringkat 6 dari 18 kontestan.
Format kompetisi penuh satu wilayah kemudian digelar maraton pada lima musim Liga Super Indonesia dari 2008 hingga 2013. Hasilnya, tak pernah sekalipun Persib bisa jadi juara atau sekadar menjejak peringkat dua.
Kutukan format kompetisi penuh satu wilayah lagi-lagi dialami Persib pada Indonesia Soccer Championship 2016. Pada kompetisi pengisi kekosongan agenda di tengah masalah pembekuan PSSI itu, Persib hanya berakhir di peringkat 5 klasemen sementara gelar juara lagi-lagi jatuh ke tangan Persipura, tim spesialis juara kompetisi penuh.

Atep mengakui, rekor buruk itu betahun-tahun itu bisa saja menjadi beban. Apalagi, Persib saat ini begitu gemerlap dengan pemain bintan, bahkan bisa dibilang merupakan skuat paling mewah dibandingkan kontestan lainnya di Liga 1. Jadi, akan sangat ironis, bahkan keterlaluan jika sampai lagi-lagi gagal juara.
Namun dia optimistis, motivasi untuk mengukir sejarah akan membuat dia dan rekan-rekannya termotivasi dan menganggap rekor buruk sebagai tantangan.
“Saya yakin rekor buruk dan skuat penuh bintang ini tidak akan menjadi beban. Malah sebaliknya, kami semakin bersemangat untuk memburu gelar juara,” kata gelandang sayap yang konsisten mencetak gol sejak bergabung dengan Persib pada 2008 itu.
Misi besar Persib akan dimulai pada laga perdana yang rencananya digelar Sabtu 15 April 2017. Tak tanggung-tanggung, lawan yang bakal dihadapi adalah seteru berat yang baru saja merajai Piala Presiden 2017, Arema FC. Kemenangan atas Singo Edan tentu merupakan langkah sempurna untuk merealisasikan cita-cita mempertahankan gelar sekaligus untuk pertama kalinya menjurai kompetisi satu wilayah.***

uggbootsshoessale.com kiu kiu Sumber: Pikiran Rakyat