Mewajarkan Pemecatan Ranieri

Didukung dengan penurunan performa klub-klub besar seperti Chelsea dan Manchester City, The Foxes berhasil memanfaatkan momen itu untuk meraih gelar juara dan mencatatkan sejarah baru di persepakbolaan Inggris.
Di kursi kepelatihan Leicester, duduk seorang pria yang mungkin cukup familiar bagi penikmat sepakbola dunia. Keputusan petinggi klub mendatangkan Claudio Ranieri pada musim panas sebelumnya ternyata menjadi keputusan yang membuat mereka mencatatkan sejarah baru. Yang lebih spesial, keberhasilan Leicester itupun menjadi trofi kasta tertinggi pertama yang diraih oleh Ranieri. Padahal, sepanjang karirnya ia pernah melatih klub besar seperi AS Roma, Juventus, Internazionale, hingga Chelsea.

Di awal musim ini, masih dengan euforia keberhasilan mereka, Leicester pun memperkuat skuat mereka dengan pemain-pemain yang cukup ternama seperti Ahmed Musa dan Islam Slimani. Meskipun kehilangan N’Golo Kante, keberhasilan menjaga Jamie Vardy dan Riyad Mahrez dari cengkeraman klub-klub besar setidaknya membuat fans The Foxes mengakhiri bursa transfer musim panas lalu dengan sedikit perasaan lega karena berhasil menjaga pemain bintang andalan klub mereka.
Namun, perlahan Leicester pun seperti bangun dari mimpi mereka. Alih-alih berkutat di papan tengah, Leicester kini justru duduk satu poin di atas zona degradasi. Sebelum menjuarai Premier League musim lalu, Leicester memang bersaing menghindari degradasi di musim pertama mereka kembali ke Premier League. Mereka bahkan membutuhkan hingga beberapa pertandingan terakhir menjelang akhir musim sebelum berhasil memastikan mereka akan tetap berada di Premier League.
Kini, The Foxes pun seakan kembali ke kodrat mereka sebagai tim papan bawah. Dengan pemain-pemain mereka yang tentu belum bisa menghilangkan euforia pasca juara Premier League, tentu pertarungan menghindari degradasi akan menjadi tantangan tersendiri bagi pelatih dan pemain. Terlebih untuk sang pelatih, tentu ia harus bisa mengembalikan mental para pemainnya dan bersiap untuk kemungkinan apapun.
Inilah yang disinyalir menjadi kegagalan Ranieri musim ini. Tentu ketika ia mendatangkan pemain-pemain dengan harga tinggi pada musim panas, ia menjanjikan sesuatu yang besar–tentu jauh dari jeratan degradasi. Dan, ketika timnya mulai menunjukkan tanda-tanda terpuruk, Ranieri pun tidak memiliki opsi lain untuk menangani para pemainnya. Memang, ia tidak memiliki konflik dengan individu pemain. Namun, ketidakmampuannya untuk menunjukkan kemampuan man-management yang tepat pun harus dibayar mahal dengan pemecatannya.
Bila berbicara dari perspektif perasaan, tentu memecat Ranieri adalah ‘dosa’ yang seharusnya tidak dilakukan Leicester. Tapi, sepakbola adalah profesionalisme. Ranieri pun gagal menjalankan tugasnya sebagai seorang manajer bagi Leicester hingga akhirnya harus kehilangan pekerjaannya. Dan, itu adalah resiko yang wajar apabila melihat bahwa sepakbola kini lebih dari sekedar olahraga. Sepakbola kini adalah sebuah kesatuan industri besar yang tidak berperasaan.

uggbootsshoessale.com kiu kiu Sumber: Supersoccer.co ID